Thursday, December 09, 2010

Yogyakarta dalam Ancaman Kisruh Pengelolaan Tanah

Pemerintah Pusat akan mengatur keistimewaan Yogyakarta. Niat pemerintah yang dituangkan dalam sebuah Rancangan Undang-undang (RUU) itu menuai kritik dan penolakan dari sebagian rakyat Yogyakarta.

Polemik keistimewaan Yogyakarta itu berpusat pada kedudukan Sultan Hamengkubuwono X dan penerusnya sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pemerintah Pusat menginginkan gubernur DIY dipilih langsung melalui pemilihan umum, sedangkan rakyat Yogyakarta ingin Sultan ditetapkan langsung sebagai gubernur.

Perdebatan masih berkutat soal kepemimpinan Yogyakarta. Padahal, jika dicermati lebih dalam, pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyikapi polemik itu berisi sejumlah catatan yang akan dicantumkan dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta.

Substansi keistimewaan yang dimaksud presiden itu antara lain hal-hal yang berkaitan dengan sisi pemerintahan, terutama posisi gubernur dan wakil gubernur yang pas dan yang khusus bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Presiden juga menyinggung perlakukan khusus dan peran istimewa bagi pewaris Kesultanan dan Pakualaman secara permanen.

Dan yang tak kalah penting, kepala negara juga menyinggung masalah pengelolaan tanah--kebutuhan dasar dan aset yang sangat berharga bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk Yogyakarta.

"Tentang hak ekslusif pengelolaan tanah di Yogyakarta, baik yang menjadi otoritas Kesultanan maupun Pakualaman dan tata ruang khusus pula bagi Daerah Istimewa Yogyakarta," kata presiden.


Sistem khusus

Yogyakarta terkenal dengan sistem khusus pengelolaan tanah. Bahkan, Undang-undang Pokok Agraria seakan tidak kuasa menembus sistem pengelolaan mandiri terhadap tanah keraton atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ground itu.

Pusat Dokumentasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan, Sultan Ground merupakan tanah adat peninggalan leluhur yang dimiliki oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sultan Hamengkubuwono X menyebut tanah keraton sebagai tanah-tanah raja dan keluarga keraton, situs, magersari, serta tanah garapan kosong.

Tanah keraton terhampar luas di berbagai daerah di Yogyakarta. Kabupaten Bantul, misalnya, mengelola ribuan hektare tanah keraton yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Sebagai contoh, Desa Selopamioro, Imogiri, Kabupaten Bantul mengelola tanah keraton seluas 500 hektare. Tanah itu dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, penghijauan, tempat ibadah, dan pemakaman. Selain itu, Sekolah Polisi Negara (SPN) juga memanfaatkan tanah keraton seluas 26 hektare untuk kegiatan pendidikan di kawasan itu.

Dokumentasi Dinas Pertanahan DIY pada 2007 mencatat pemanfaatan serupa di Desa Karang Tengah, Imogiri. Tanah keraton seluas 58,5 hektare di kawasan itu dimanfaatkan untuk transmigrasi lokal, kawasan pertanian, dan konservasi tanaman langka.

Tanah keraton di Kabupaten Bantul itu hanya salah satu contoh. Tanah keraton yang lain tersebar hampir di semua kabupaten di Yogyakarta.

Salah satu pemanfaatan tanah keraton adalah untuk tempat tinggal rakyat Yogyakarta dengan status magersari. Rakyat boleh memanfaatkan tanah, dengan kesadaran penuh bahwa status tanah itu adalah milik keraton.

Penduduk setempat yang menempati tanah itu tidak memiliki sertifikat. Mereka hanya berbekal Serat Kekancingan atau surat yang dikeluarkan Keraton tentang penggunaan tanah.

Keraton menugaskan sejumlah abdi dalem yang tergabung dalam satuan khusus pengelolaan tanah bernama Paniti Kismo. Satuan khusus ini memiliki struktur organisasi yang tertata apik hingga tingkat desa.

Paniti Kismo memiliki otoritas mengelola pemanfaatan tanah keraton untuk berbagai kepentingan dan kesejahteraan rakyat Yogyakarta.

Menurut Pusat Dokumentasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, rakyat yang berbekal Serat Kekancingan tidak dibebani pembayaran pajak kepada Paniti Kismo dan keraton.

Bahkan, rakyat juga tidak perlu menyerahkan Glondhong Pengarem-arem atau uang yang diberikan oleh rakyat Yogyakarta kepada keraton sebagai ucapan terima kasih karena boleh menggunakan tanah keraton.

Singkat kata, tanah milik keraton itu digunakan secara gratis oleh rakyat Yogyakarta. Rakyat bisa menempati tanah itu secara turun temurun tanpa beban pajak.


Sikap Sultan

Sri Sultan Hamengkubuwono X belum bersuara lantang tentang niat Pemerintah Pusat untuk mengatur keistimewaan Yogyakarta.

Sultan juga belum menyinggung soal pengelolaan tanah yang disebut oleh Presiden Yudhoyono sebagai salah satu substansi yang akan diatur dalam RUU keistimewaan Yogyakarta. Hingga kini, pemerintah pun belum menjelaskan secara rinci substansi pengelolaan tanah dalam RUU tersebut.

Sebenarnya Pemerintah Pusat dan DPR RI telah membahas RUU keistimewaan Yogyakarta pada 2008. Saat itu sebagian besar fraksi telah menyepakati isi RUU. Fraksi Partai Demokrat adalah satu-satunya fraksi yang tidak setuju, khususnya tentang mekanisme pemilihan gubernur DIY.

Draf RUU yang dibahas pada 2008 juga menyinggung soal pengelolaan tanah. Pasal 9 ayat (1) draf RUU itu menyatakan, Kesultanan sebagai bagian dari Parardhya mempunyai hak milik atas tanah keraton atau Sultanaat Grond. Pasal yang sama juga menyatakan, Pakualaman mempunyai hak milik atas Pakualamanaat Grond.

Pengelolaan dan pemanfaatan Sultanaat Grond dan Pakualamanaat Grond ditujukan untuk sebesar-besarnya kepentingan pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan kepentingan publik demi kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, pasal 39 draf tersebut mewajibkan Sultan tetap tunduk pada peraturan Pemerintah Pusat dengan mendaftarkan hasil konsolidasi dan klasifikasi tanah kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.

Sebenarnya, polemik tentang tanah keraton sudah muncul pada 2007, ketika muncul wacana tanah gratis bagi rakyat.

Saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X selaku Raja Keraton Kasultanan Yogyakarta mengatakan, tanah milik keraton atau tanah kasultanan tidak mungkin termasuk tanah yang akan diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada warga miskin dalam program tanah gratis bagi rakyat.

"Tanah Kasultanan adalah tanah milik keraton, sehingga tidak mungkin tanah ini termasuk yang akan diberikan secara gratis oleh Pemerintah Pusat kepada warga miskin," katanya

Sultan mengatakan, keberadaan tanah milik keraton tidak akan terusik dengan program pemerintah dalam reformasi kebijakan agraria tersebut, karena tanah kasultanan bukan tanah milik pemerintah.

Menurut Sultan, selama ini sebagian dari Sultan Ground telah digunakan atau ditempati oleh rakyat, di antaranya untuk mendirikan rumah tinggal, gedung sekolah, dan perkantoran, tetapi tidak bisa mengambil alih hak kepemilikan tanah tersebut.

"Statusnya hanya menempati atau magersari, dan tidak bisa dimiliki," katanya.

Kini, dalam polemik di penghujung 2010, Sultan memilih diam untuk sementara. Dia belum membicarakan berbagai kemungkinan yang timbul akibat perubahan sistem pengelolaan tanah yang (bisa jadi) tidak lagi melibatkan Paniti Kismo.

Sultan belum menyikapi kemungkinan berkurangnya lahan pertanian, hunian, pusat budaya, dan konservasi tanaman langka karena menjelma menjadi kawasan bisnis akibat perubahan mekanisme pengelolaan tanah.

Sultan belum bicara tentang kemungkinan adanya "uang terimakasih" dari pengusaha kepada pejabat daerah dan pusat yang telah "melonggarkan" aturan pertanahan sehingga para pengusaha bebas masuk dan mengeruk kekayaan di Yogyakarta.

Sultan juga belum bereaksi terhadap kemungkinan pungutan pajak tanah kepada rakyat setelah Serat Kekancingan tak berlaku dan rakyat harus tunduk pada hukum agraria nasional.

Bahkan, Raja Yogyakarta itu belum memberikan pernyataan tentang kemungkinan hilangnya martabat keraton karena tak mampu lagi berbagi rasa dengan rakyatnya melalui sistem penataan tanah yang tidak saling membebani.

*****
Foto diunduh dari http://www.google.co.id/

Thursday, December 02, 2010

"Apel" di Atas Lambang Negara Republik Indonesia

Hari kedua Desember 2010.

Dengan langkah pelan Pak SBY menuju Podium Garuda kesayangannya. Sejumlah juru foto, juru kamera, dan juru tulis sudah bersiaga. Ya, mereka hendak mendengarkan pernyataan Pak Presiden tentang hal yang sangat penting, polemik Kraton Yogyakarta.

Pak SBY menjadi bahan berita beberapa hari terakhir, terutama setelah dia berucap tentang sistem monarki yang tidak mungkin sejalan dengan demokrasi.

Gunung Merapi seakan meletus kembali dan gempa Jogja seolah terulang setelah ucapan itu keluar dari mulut Pak SBY. Rakyat Jogja merasa Sang Presiden "memandang rendah" keyakinan mereka.

Di belakang Podium Garuda, Pak SBY memberikan klarifikasi. Saat itu, SBY menunjukkan niat baik untuk menghargai Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Saat itu juga, meski tidak terlalu nyambung, bapak mas Ibas itu menampilkan diri sebagai pribadi yang terbuka terhadap kemajuan, termasuk perkembangan teknologi.

Ya benar, komputer tablet iPad buktinya. Itu barang mahal, tentu untuk ukuranku yang melarat ini.

Perangkat elektronik bikinan Apple itu adalah barang baru di atas Podium Garuda. Anda mungkin masih ingat dengan cerita tentang Tampilan Baru Podium Pak Presiden. Cerita itu menggambarkan betapa presiden kita sangat sayang dengan Podium Garuda. Hanya ada beberapa benda yang boleh nangkring di atasnya, antara lain mikrofon podium dan mikrofon milik para wartawan televisi.

Nah, kini iPad menjadi barang baru di atas podium. Pak SBY tampak sigap mengoperasikan perangkat canggih itu. Sesekali dia melirik iPad selama berpidato di hadapan rakyatnya. Tanpa canggung, dia juga kadang menyentuh layar alat itu. Maklum, konon perangkat itu sangat menurut hanya dengan menyentuh dengan lembut layarnya yang licin.

Hati Pak Presiden jatuh dalam rengkuhan Apple. Sebenarnya pidato tentang Jogja bukanlah kali pertama Apple menemani SBY di depan kamera televisi. Sebelumnya, mereka sudah berdampingan dalam beberapa rapat terbatas ataupun rapat kabinet paripurna di kantor kepresidenan.

Siapa tak senang memiliki presiden yang "melek teknologi"? yang jelas, Pak SBY kini tampak lebih "update". Saya ikut senang, semoga tidak kebablasan menjadi aL4y :)

Tak terbayang aku menenteng perangkat mahal itu. Saking penasarannya, kucoba mencari tahu apa sih isi Apple iPad, hingga orang nomor satu di negeri ini begitu jatuh hati.

Laman resmi Apple menggambarkan, iPad adalah alat canggih dengan bentuk yang ramping. Tak perlu ribet dengan "keyboard" dan kabel kusut. Barang tanpa kabel ini memiliki layar yang sangat sensitif...tinggal sentuh, dunia menjadi milik anda.

Dengan mesin pencari cekatan yang "ditanam" di dalamnya, barang yang satu ini bisa menuntun anda berselancar di dunia maya tanpa batas...ya internet.

Surat elektronik? tentu saja. Anda akan mendapat pemberitahuan setiap kali ada surat elektronik masuk. Tanpa prangko...tanpa Pak Pos. Ya, ini berguna bagi Pak SBY yang selalu mengaku sangat memperhatikan rakyat yang ingin mengirim surat atau mengadu.

Alat ini juga menyimpan sejumlah perangkat lunak untuk membuat catatan penting, dan bahan presentasi lengkap dengan berbagai animasi grafik.

Foto? sudah pasti. Pak SBY bisa menyimpan ribuan foto. Bahkan, kalau mau, Pak SBY bisa membantu menampung foto-foto anak buahnya, para pejabat yang gemar berfoto dan membuat banyak orang belajar narsis.

Apple sesumbar, alat yang satu ini juga bisa menyimpan jutaan lagu dan ribuan video. Mudah-mudahan dengan bantuan iPad, Pak SBY yang juga pencipta lagu bisa semakin produktif...syukur-syukur bikin video klip.

Musik tak lengkap tanpa 'game', dan iPad mengerti itu. "Social game" adalah menu yang akan anda nikmati. Dengan alat ini, anda tidak akan kesepian, karena bisa bermain dengan orang lain meski mereka tidak ada di sebelah anda. Ya, anda bisa bermain dengan orang di ujung bumi sekalipun. Wah..pasti pak presiden bisa menghalau stress. Yang pasti, 'Game' akan melatih presiden untuk lebih cepat, tangkas, trengginas, dan lepas dari keraguan.

Anda juga bisa bernafas lega karena alat ini akan membantu anda supaya tidak tersesat. Peta pintar adalah jawabannya. Pak SBY yang sering pergi ke berbagai daerah dan luar negeri tentu sangat membutuhkannya.

Untuk sebuah iPad, anda harus merogoh kocek hingga 829 dolar AS, atau sekitar Rp8 juta.

Masih banyak keajaiban iPad. Saking banyaknya, saya tidak bisa menguraikannya satu per satu. Yang nyantol di kepalaku hanyalah hasil survey dari lembaga survey terkenal, Nielsen.

Nielsen menyatakan, iPad menempati urutan pertama dalam daftar alat elektronik yang dicari anak-anak usia 6 hingga 12 tahun, hehehehe.... :)


*****

Foto-foto:

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1291288209/penjelasan-diy

http://www.apple.com/ipad/gallery/#hardware01

http://www.apple.com/ipad/design/

http://www.ivillage.com/so-if-menu-s-ipad/3-a-210614

Wednesday, December 01, 2010

Aksi Nyonya-Nyonya Pejabat di Pesisir

Hari pertama Desember 2010. Aku melanjutkan perjalanan ke desa Tanjung Pasir, Tangerang, Banten. Tidak sendiri memang. Saat itu, ribuan pasang kaki melangkah menuju pesisir desa tersebut. Ribuan pasang mata tertuju pada satu lokasi tempat sebuah tenda besar tegak berdiri.

Ya, orang-orang berdesakan di tenda itu. Beberapa orang sibuk mencari kursi tak bertuan dan bergegas mendudukinya. Beberapa orang lainnya memilih mengamati ribuan bibit pohon berbagai jenis yang diatur rapi di atas hamparan tanah berpasir, siap untuk ditanam.

Ada yang menarik perhatian. Sebagian besar dari mereka yang datang adalah wanita, kalau aku tidak salah lihat tentunya.

Dilihat dari cara bersolek, mereka bukan dari kalangan rakyat jelata sepertiku. Bedak yang menempel di muka mereka bisa dibilang tebal, gincu cerah mencolok memoles bibir mereka. Dan tentu saja, kaca mata hitam dan lebar bertengger di atas hidung.

Memang ada kaum adam di sana. Namun, kali ini, para pria harus mengakui dominasi perempuan yang juga nyonya-nyonya pejabat teras negeri ini.

Mereka berada di pesisir untuk menyambut Bu Ani Yudhoyono, istri Pak SBY. Bu Ani sedang punya hajat besar, yaitu gerakan peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan hidup di pesisir.

Harus saya akui, semangat nyonya-nyonya itu sungguh luar biasa. Mereka menyanyi, bertepuk tangan, sampai tertawa kecil hingga terbahak-bahak.

Ibu-ibu pejabat dan panitia sigap mempersiapkan segala sesuatu untuk satu tujuan, semua rangkaian acara berjalan lancar ketika Sang Ibu Negara tiba.

Laksana persiapan upacara bendera, semua yang hadir mengikuti sesi latihan sesuai tata urutan acara. Sang pembawa acara, mbak Tia Maryadi, luwes membacakan susunan acara sambil mengarahkan setiap anggota untuk melaksanakan tugas masing-masing.

Kaum jelata yang akan diberi bantuan atau santunan dilatih cara naik panggung, dan dibimbing harus berdiri di tempat tertentu di atas panggung. Petugas khusus--lengkap dengan alat komunikasi berkabel atau tanpa kabel-- dengan sabar menuntun mereka.

Sesi persiapan ini juga menyertakan tata cara bertepuk tangan sebagai salah satu "mata pelajaran". Semua hadirin harus tahu persis kapan harus bertepuk tangan.


"Ramah" lingkungan

Bu Ani tiba di tempat acara menjelang pukul sembilan pagi. Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Semua petugas , penerima santunan, dan penonton berhasil menjalankan peran masing-masing. Berlatih dengan sungguh-sungguh terbukti tidak sia-sia.

Ibu Negara menyaksikan dengan seksama setiap rangkaian acara, hingga tiba gilirannya berpidato. Sang Ibu berpidato dengan lancar, tentu saja karena dibantu dengan teks yang sudah disiapkan sebelumnya.

Acara selanjutnya adalah menanam bibit pohon. Tunggu dulu, jangan Anda bayangkan kegiatan yang satu ini akan dilaksanakan dengan cara biasa. Setiap kegiatan nyonya pejabat, apalagi dihadiri oleh wanita nomor satu di republik, harus tertata rapi.

Panitia telah membuat ratusan lubang berdiameter sekitar 20 cm di hamparan pesisir yang luas, tepat di samping tenda tempat Bu Ani berpidato. Lubang-lubang itu berjajar rapi, dengan jarak yang terukur.

Di setiap lubang terdapat sebatang bibit pohon, ember, dan papan hijau bertuliskan nama nyonya pejabat lengkap dengan jenis bibit pohon yang ditanam. Handuk putih bersih diletakkan di atas papan tersebut. Dengan demikian, para nyonya tak perlu takut kotor. Hebat kan? Sungguh disiapkan dengan baik. Orang Inggris bilang, "well prepared".

Sesi menanam pohon dilakukan serempak. Sesaat setelah Bu Ani menekan tombol sirine, para nyonya pejabat serempak memasukkan bibit pohon ke lubang, menguruknya dengan tanah seperlunya, mengelap tangan,...dan biarkan petugas yang lain menyelesaikan sesi penanaman hingga tuntas.

Acara Nyonya-nyonya pejabat di pesisir ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Desa Tanjung Pasir dipilih sebagai tempat peresmian Desa Sejahtera hasil binaan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu.

Peresmian itu ditandai dengan bunyi sirine dan pelepasan ribuan balon karet warna-warni. Ribuan balon karet itu melayang tinggi dan sebagian jatuh di atas air laut, karena memang saat itu angin berhembus ke arah laut.


Aku membayangkan, semua balon itu pasti akan jatuh di laut atau di pesisir jika gas yang membuatnya melayang telah habis.

Keindahan balon itu sangat mungkin sirna dalam kurun waktu tertentu. Dan tidak mustahil, ribuan balon itu pada akhirnya akan menjadi sampah di pesisir.

Kucoba mencari tahu apa sebenarnya kandungan dalam karet yang menjadi bahan dasar pembuatan balon. Laman Institut Teknologi Bandung menyebut produk dan buangan industri karet sangat mungkin mengandung NH3 atau yang kita kenal sebagai amoniak. Bahan kimia ini berbau sangat menyengat dan bersifat racun untuk pernafasan manusia. Waduh...!?!
*****

Foto-foto: koleksi pribadi

Wednesday, November 17, 2010

Bersahabat Dengan Sapi Pak Presiden

Dua ekor sapi itu berada di dalam komplek Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu pagi. Keduanya diikat dengan tali kekang pada bagian leher dan kepala. Kemudian, tali kekang itu diikatkan pada dua batang pohon.

Kedua sapi itu berada di dalam taman, tepat di samping salah satu pintu masuk masjid yang konon paling besar se-Asia Tenggara itu.
Pintu masuk itu adalah pintu khusus karena akan dilewati oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Presiden dan Ibu negara berada di Masjid Istiqlal untuk menunaikan shalat Idul Adha 1431 H.

Dinding di sekitar pintu masuk itu berhias kain warna-warni. Warna merah, putih, dan biru sangat dominan di ruangan itu.

Sejumlah pejabat negara dan beberapa pasukan pengamanan bersiaga di lokasi tersebut. Bahkan, taman tempat dua ekor sapi itu berada juga tak luput dari penjagaan khusus.

Singkat kata, dua ekor sapi yang akan dikurbankan itu beruntung. Bagaimana tidak? berdasar pantauan, hanya dua sapi itu--selain tentunya para pejabat negara--yang bisa berada di dekat presiden saat orang nomor satu itu memasuki Istiqlal. Sementara itu, hewan kurban yang lain ditempatkan jauh dari pintu masuk tersebut.

Maklum saja, dua ekor sapi itu adalah hewan kurban yang diserahkan oleh Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono kepada pengelola Masjid Istiqlal.


Yunus bersaudara

Meski berada di taman dan dekat dengan pintu masuk bagi presiden, kedua sapi itu terlihat tidak begitu nyaman.

Kedua hewan kurban itu beberapa kali mengibaskan ekor ke segala arah. Mereka bahkan kadang memukulkan ekor ke bagian tubuh tertentu.

Mereka hentakkan kaki keras-keras, sambil sesekali mendongakkan kepala ke atas sehingga tali kekang yang membelenggu mereka menegang.

Sapi-sapi itu terlihat berusaha menghilangkan tanah basah yang melekat pada kaki mereka, dengan menghentakkan kaki atau mengoleskan tanah itu ke pohon atau bagian tubuh yang lain.

Hanya sebagian kaki-kaki sapi itu yang kotor. Selebihnya, kedua sapi itu tampak putih bersih. Tidak ada bercak tanah basah atau kotoran lain melekat pada tubuh hewan tambun itu.

Adalah Wahyu Yunus yang mampu mengenali gerak tubuh sapi-sapi tersebut. Dia bahkan berani menegaskan, kedua sapi itu tidak merasa nyaman berdiri di tanah basah yang mengotori sebagian kakinya.

"Biasanya mereka berdiri di atas karpet karet," katanya tenang.

Bersama saudaranya, Muqorrobin Yunus, Wahyu bagaikan sahabat karib kedua sapi itu. Mereka begitu mengenal tingkah laku dan kebiasaan dua hewan kurban itu.

Wahyu Yunus dan Muqorrobin Yunus adalah kakak beradik yang didaulat untuk merawat sapi pesanan Presiden dan Wakil Presiden.

Bersama ayah mereka, Wahyu dan Muqorrobin mengelola bisnis perawatan sapi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Menurut Wahyu, bisnis yang dikelola keluarganya selalu diminta oleh pihak Istana Kepresidenan untuk merawat sapi khusus, terutama setiap kali presiden dan wakil presiden akan berkurban pada Hari Raya Idul Adha.

Dengan bangga, Wahyu Yunus mengaku telah merawat "sapi kepresidenan" yang dijadikan hewan kurban sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pada 2004.


Sapi emosional


Yunus bersaudara merawat sapi milik Presiden dan Wakil Presiden selama kurang lebih satu bulan, sebelum dikurbankan di Istiqlal.

Kakak beradik itu membagi pekerjaan untuk menunaikan tugas mulia tersebut. Sang kakak, Wahyu Yunus, bertugas mengurus sapi milik Presiden Yudhoyono. Sedangkan si adik, Muqorrobin Yunus, bertugas merawat sapi pesanan Wakil Presiden Boediono.
Meski ada pembagian tugas, mereka saling membantu dalam bekerja.

Setiap sapi memiliki sifat berbeda, kata Muqorrobin Yunus. Untuk tahun ini, sapi milik Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono cukup emosional.

"Mereka kadang marah, tidak mau dipegang bagian tubuh tertentu," katanya.
Menurut Muqorrobin, sapi-sapi itu juga tidak senang jika tidak ditempatkan di tempat yang tidak senyaman lokasi perawatan.

Dia kemudian menjelaskan, sapi-sapi pesanan itu tidak nyaman berdiri di atas tanah basah di samping Istiqlal karena keduanya biasa berdiri di lantai yang dilapisi karpet yang terbuat dari karet.

Meski demikian, Yunus bersaudara memperlakukan sapi-sapi "istimewa" itu laiknya sahabat. Mereka merawat dan memberikan makanan khusus.

Mereka juga memandikan sapi-sapi itu secara rutin terutama menjelang dibawa ke Istiqlal, tempat penyerahan sapi dari Presiden Yudhoyono kepada pengelola masjid.

Selain itu, kakak beradik itu juga menyediakan makanan sehat. Secara rutin, mereka menyediakan kulit jagung, ampas tahu, kedelai, dan singkong untuk pakan.

Muqorrobin menjelaskan, berbagai jenis pakan itu digiling atau diaduk menjadi satu. Adonan pakan itu kemudian dicampur garam secukupnya supaya lebih berasa.

Tidak ada waktu khusus untuk memberi makan sapi-sapi itu. Menurut Muqorrobin, sapi pesanan presiden dan wapres itu hobi makan.

"Jadi kalau sudah terlihat lapar, ya langsung kita kasih makan lagi," katanya.

Muqorrobin mengatakan, pakan khusus itu terbukti menyehatkan dan bisa menambah bobot sapi. Setelah menjalani perawatan sebulan penuh, katanya, sapi milik presiden berbobot 1,8 ton dan sapi milik wakil presiden berbobot 1,2 ton dalam usia tujuh tahun.

Meski bercerita banyak tentang cara perawatan sapi, Yunus bersaudara tidak mau buka mulut ketika ditanya tentang jenis dan harga sapi yang beratnya diukur dalam satuan "ton" itu.

Keduanya juga tidak mau menjawab ketika ditanya jumlah honor untuk merawat dua "sapi kepresidenan" itu.

Berdasarkan ciri fisik, sapi milik presiden dan wakil presiden itu termasuk jenis Sapi Ongole. Setidaknya hal itu diuraikan dalam laman Kementerian Pertanian.

Ciri-ciri fisik Sapi Ongole yang diuraikan dalam laman itu sama persis dengan ciri sapi milik presiden dan wakil presiden yang "dipajang" di Masjid Istiqlal.

Sapi Ongole adalah sapi potong yang berwarna putih. Beberapa bagian tubuhnya, terutama ujung ekor dan hidung, berwarna hitam.

Sapi jenis ini bergelambir, mulai dari rahang hingga dada. Dia berbadan besar, panjang, berpunuk, dan bertanduk. Hewan ini juga memiliki daya adaptasi yang cukup baik, serta bisa tumbuh dengan cepat.

Sebuah biro iklan di Ciputat, Jakarta Selatan, mematok harga Rp12 juta untuk seekor sapi jenis ini dengan berat 350 kilogram.

Sedangkan data Dinas Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat pada September 2010 merinci, harga sapi jenis ini bisa mencapai Rp35 ribu per kilogram berat hidup.

Sementara itu, Kementerian Pertanian pada Mei 2010 menyatakan harga rata-rata sapi potong adalah Rp25 ribu per kilogram berat hidup.

Berdasar harga rata-rata sapi potong versi Kementerian Pertanian, maka Presiden Yudhoyono harus mengalokasikan dana sedikitnya Rp45 juta untuk membeli seekor sapi dengan berat 1,8 ton. Sebuah harga yang jauh lebih tinggi daripada harga sapi milik korban dan pengungsi letusan Gunung Merapi yang akan diganti pemerintah dengan uang Rp5 juta sampai Rp10 juta per ekor.
*****

Foto: koleksi pribadi
Cerita ini juga bisa dibaca di: http://www.antaranews.com/berita/1289973525/bersahabat-dengan-sapi-pak-presiden

Thursday, November 11, 2010

Tampilan Baru Podium Pak Presiden

Rene Decartes yang jago filsafat pernah bilang, "Cogito Ergo Sum" atau "Aku berpikir maka aku ada". Tapi, untuk tulisan ini, aku cuma mau bilang,..."Aku ber-podium, maka aku ada."

Pagi itu, kegiatan Pak Presiden SBY di depan rakyatnya diawali di ruang wartawan yang berada di kantor presiden. Sejak pukul delapan pagi, puluhan juru warta sudah berkumpul untuk mendengarkan titah Sang Kepala Negara tentang rencana kunjungan kerja ke Korea Selatan dan Jepang.

Sejumlah penyangga kamera berderet rapi di baris paling depan. Sedangkan para juru tulis atau wartawan cetak berada di belakang penyangga tersebut.

Saya sendiri kurang mengerti mengapa pihak istana mengatur urutan sedemikian rupa. Oh, mungkin saja memang ada arahan agar sorot kamera tidak terganggu hilir mudik wartawan cetak. Maklum saja, gambar pak presiden yang rupawan akan kacau balau kalau terhalang makhluk-makhluk jelata itu.

Pagi itu, perhatian tertuju pada Podium Garuda--sebuah podium andalan Pak SBY setiap kali berpidato. Konon, istana memiliki sejumlah podium yang sama persis dan harus selalu ada setiap kali presiden ingin berpidato, kapanpun..dimanapun; di puncak dataran tinggi Yahukimo sekalipun.

Aku yang gampang kagum--atau kata orang Jawa "gumunan"--mencoba mengintip. Oalah, ternyata para abdi Pak Presiden sedang menata ulang tampilan podium andalan itu.

Satu hal yang kutangkap adalah, para abdi itu berusaha sedemikian rupa agar mikorofon para wartawan televisi bisa "nangkring" di podium dengan rapi. Entah kenapa harus begitu.

Tidak cukup satu orang untuk mempercantik podium pak SBY. Dengan sigap, beberapa orang memasang penyangga khusus di atas podium. Penyangga itu akan menyangga mikrofon dengan rapi, sehingga tampilan pak presiden di layar kaca akan semakin yahud.



Sebelumnya, Pak SBY tidak pernah berpidato menghadap deretan mikrofon. Biasanya, podium pak presiden selalu polos, hanya dilengkapi dua tiang mikrofon khusus yang memang dirancang menempel pada podium itu. Dua mikrofon itu "menjulur" dari permukaan podium ke arah mulut pak presiden.


Entah kenapa kini harus ada mikrofon wartawan televisi yang tersusun rapi di atas podium. Pikiran bebalku melayang ke peristiwa ketika Pak Yudhoyono tidak jadi berpidato di Halim Perdanakusuma.

Mungkin teman-teman masih ingat, waktu itu presiden menunda pidato karena mikrofon televisi tidak diletakkan di atas podium. Padahal biasanya mikrofon wartawan tidak pernah mengarah ke pak SBY. Biasanya, mikrofon selalu mengarah ke pengeras suara yang berada di sudut ruangan atau di belakang barisan wartawan.

Para abdi menangkap kekecewaan pak presiden. Dengan segala daya upaya, para abdi berusaha menyusun mikrofon televisi di atas podium. Tidak ada alat penyangga khusus waktu itu. Tak apalah mikrofon tidak tersusun rapi. Yang penting bapak senang.

Lagi-lagi aku terlalu bodoh untuk berpikir, bahkan terlalu bebal untuk menduga kenapa Pak SBY ingin sekali berpidato di depan mikrofon wartawan televisi.

Saat itu, yang terlintas di otakku adalah: pak presiden merasa pidatonya begitu berharga sehingga wartawan televisi rela menumpuk-numpuk mikrofon di podium. Eits...tunggu dulu, saya hanya bilang pak presiden MERASA pidatonya berharga.

Kembali ke ruang wartawan di kantor presiden. Atas usaha keras para abdi, akhirnya mikrofon para wartawan televisi bisa tersusun rapi di atas podium. Dengan begitu, gambar pak presiden yang muncul di televisi akan semakin mantap. Kesan penting serta berharganya setiap kata yang keluar dari mulut presiden akan tetap terjaga.



Mungkin anda bertanya, kok yang diurus hanya mikrofon yang terhubung langsung ke kamera wartawan televisi? bagaimana dengan alat rekam suara milik wartawan cetak? Sayapun bingung. Oh, mungkin karena belum ada alat rekam suara yang bisa menampilkan gambar pak presiden yang rupawan.

*****

foto-foto: koleksi pribadi, www.antarafoto.com, dan www.antaranews.com

Wednesday, November 10, 2010

"Apa Kabar Indonesia," Kata Obama

Menanyakan kabar adalah hal pertama yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Barack Obama begitu menginjakkan kaki di teras Istana Merdeka, Jakarta, Selasa.

Ucapan itu terlontar sesaat setelah dia disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono di beranda istana.

"Apa kabar," katanya kepada semua orang dalam bahasa Indonesia yang boleh dikatakan fasih.

Tentu saja, pertanyaan itu dijawab serempak, "baik pak". Jawaban itu memang tidak salah, meski pada kenyataannya, rencana penyambutan Obama di kompleks Istana Kepresidenan berubah total akibat hujan.

Lebih jauh lagi, jawaban "baik" itu tidak selaras dengan kenyataan bahwa ratusan nyawa melayang dan ribuan warga Kepulauan Mentawai, Yogyakarta, dan Jawa Tengah terpisah dari kampung halaman karena terpaksa menjadi pengungsi.

"Kabar buruk" tentang perubahan mendadak rangkaian acara kunjungan kenegaraan Presiden Obama terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, atau beberapa saat sebelum Obama dan rombongan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Saat itu, tiba-tiba hujan deras mengguyur ibu kota Jakarta.

Alhasil, kompleks Istana Kepresidenan diguyur hujan lebat, tepat ketika segala persiapan menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sedang dilakukan.

Akibat hujan, sejumlah perlengkapan yang akan digunakan untuk menyambut Obama di halaman Istana Merdeka basah kuyup.

Panggung kehormatan yang tepat berada di depan istana tak luput dari guyuran air hujan. Sejumlah penyangga kamera televisi yang sudah disiagakan juga basah.

Para pekerja istana dan beberapa wartawan nampak sibuk memindahkan peralatan itu ke tempat yang tidak terkena hujan.

Rencananya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyambut Obama dalam upacara resmi kenegaraan di halaman depan Istana Merdeka.

Sesudah menggelar pertemuan bilateral, rencananya kedua kepala negara akan menggelar konferensi pers di halaman tengah komplek istana. Untuk itu, panggung berukuran besar dan deretan kursi untuk menampung 300 wartawan telah disiapkan. Lengkap dengan karpet merah tentunya.

Rencana pun gagal total. Upacara penyambutan akhirnya digelar di teras Istana Merdeka. Presiden Yudhoyono, Presiden Obama, Ani Yudhoyono dan Michele Obama beserta puluhan pasukan pengamanan dan wartawan "berjubel" di teras itu.

Panggung "raksasa" dan karpet merah di halaman istana juga basah kuyup dan sia-sia, karena konferensi pers akhirnya digelar di dalam istana.

"Kabar buruk" lainnya muncul tepat saat kedua presiden bertukar harapan tentang hubungan baik kedua negara, di tengah hamparan berbagai hidangan jamuan makan malam kenegaraan. Saat itu, gempa mengguncang Tasikmalaya dan daerah sekitarnya, serta membuat warga di daerah itu panik.

Gempa dengan kekuatan cukup besar itu berlangsung beberapa detik namun hampir sebagian besar warga merasakannya dan berhamburan keluar rumah.



Romantisme

Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersama Michele Obama, berada di Jakarta untuk melakukan kunjungan kenegaraan dan sejumlah agenda kerja lainnya.

Obama tiba di Istana Merdeka Jakarta, Selasa sore, dan langsung disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Belasan mobil yang tergabung dalam iring-iringan kendaraan yang mengantar Obama tiba di Istana Merdeka tepat pukul 17.00 WIB.

Setibanya di halaman samping Istana Merdeka, Obama dan Michele disambut langsung oleh Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara.

Keempatnya tampak akrab dan saling berjabat tangan. Sesaat kemudian, keempatnya menuju teras Istana untuk upacara penyambutan.

Sebagian orang menganggap kedatangan Obama ke Indonesia adalah "kabar baik". Bahkan, sebagian orang mungkin menganggap kedatangannya ke tanah air adalah "berkah". Setidaknya hal itu bisa dilihat dari setumpuk harapan kerjasama di berbagai bidang yang dibahas dalam pertemuan bilateral kedua negara.

Presiden Yudhoyono berharap, kerja sama itu bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Namun, hal yang pasti menjadi topik pembicaraan dalam kunjungan Obama adalah "romantisme" masa lalu. Maklum, Obama menghabiskan masa kecil di Jakarta.

Harapan itu pun tidak terlalu muluk. Hal itu terbukti benar karena Obama memang kembali mengurai untaian kenangan yang menghiasi benaknya selama di Jakarta, puluhan tahun silam.

Barack "Berry" Obama terkenang masa lalunya ketika dia berada di Indonesia terutama tentang "becak" dan "bemo", kendaraan khas Jakarta yang sering dia jumpai pada masa kecilnya.

"Tahun 1967, saat itu orang-orang naik becak, kereta yang dikayuh dengan roda tiga. Dan kalau tidak naik becak mereka naik bemo," kata Obama saat menggelar konferensi pers bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam.

Saking melekatnya kenangan masa lalu itu, Obama bahkan menjelaskan apa yang dimaksud dengan bemo.

"Jadi seperti taksi kecil dan orang bisa duduk atau berdiri di belakang. Sangat padat," katanya sembari tersenyum dan disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Obama, kembali ke tempat yang dulu pernah ditinggali adalah hal yang luar biasa.

Namun demikian, Obama mengaku mengalami disorientasi ketika kembali ke Jakarta setelah puluhan tahun ditinggalkan. Menurut Obama, Jakarta sudah menjadi jauh lebih baik dibanding pada saat dia tinggal dulu.

"Saya rasa itu luar biasa untuk kembali," katanya

Romantisme memang disinggung oleh Obama. Namun, hal itu tidak selamanya menjadi "kabar baik" bagi warga negara Indonesia, khususnya mereka yang mengidolakan atau berharap banyak terhadap Obama.

Sebab, di akhir untaian romantisme masa lalu, Obama menegaskan masa lalu bukanlah tujuan utama Obama di Indonesia. Obama memilih menatap ke depan, daripada terbuai kenangan masa lalu.

"Hari ini sebagai presiden saya berfokus bukan pada masa lalu, tapi masa depan," katanya.

Sebuah pelajaran berharga dari Obama. Dia berusaha jujur dengan berkata tidak mementingkan romantisme masa lalu, meski banyak orang akan kecewa dengan pernyataan itu.

Indonesia bisa meniru sikap jujur Obama itu dengan menyatakan bahwa kabar negeri ini sedang "buruk" akibat rentetan bencana alam dan keterpurukan ekonomi. Indonesia juga bisa memilih menatap masa depan, melepaskan dari kungkungan masa lalu, dan fokus pada usaha meringankan penderitaan rakyat yang sekarang sedang terjadi.
*****

foto: http://antarafoto.com/cari/v1289308812/kunjungan-presiden-obama

Monday, November 01, 2010

Belajar Narsis Bersama Pejabat

Malam itu, udara Shanghai menusuk tulang. Ketika udara itu bergerak karena perbedaan tekanan dan menghempasku, tubuh ini semakin menggigil.

Maaf kalau berlebihan, maklum saja, tubuhku terlalu terbiasa terpanggang panas dan tersembur asap yang keluar dari knalpot berkarat sejumlah kendaraan di Jakarta.

Aku semakin terkagum-kagum ketika sadar bahwa sebagian besar kendaraan di Shanghai, terutama angkutan umum, adalah kendaraan listrik tak berasap. Di beberapa tempat yang sudah disediakan, kendaraan-kendaraan itu berhenti untuk mengisi ulang daya listrik mereka.

Sekali lagi aku minta maaf, kali ini karena bersikap kampungan. Maklum, selama aku hidup di Jakarta, aku hanya melihat ratusan angkutan kota meraung, dengan asap mengepul, dan kadang antri mengular untuk mengisi bahan bakar minyak yang harganya terus melangit.

Ah sudahlah. Singkatnya, karena keberuntunganku, aku sampai ke negeri tirai bambu itu. Karena keberuntungan pula, aku bisa menikmati suasana, sekaligus mengintip aktivitas para pejabat kita yang melakukan kunjungan kerja di sana. Kuulangi sekali lagi, kunjungan kerja.

Akhir Oktober ini, Pak Presiden SBY memang dijadwalkan berkunjung ke Shanghai untuk melakukan sejumlah pekerjaan, mulai dari menghadiri forum pengusaha hingga mengunjungi pavilion Indonesia yang berada di World Expo 2010.

Tentu saja pak presiden tidak sendiri. Seperti biasa, sang istri dan anak bungsunya ikut. Beberapa petinggi, namun masih kalah tinggi dari pak SBY, juga tak mau ketinggalan.

Sore menjelang malam, rombongan tiba di sebuah hotel mewah, tepat di jantung kota. Malam itu, pak presiden menghabiskan waktu dengan bertemu sejumlah kalangan, terutama pebisnis yang sedang menggelar forum bisnis tentang segala macam investasi di Indonesia.

Singkatnya, segala sumber daya alam tanah air kita ditawarkan untuk dieksploitasi para pengusaha dari negeri tirai bambu.

Keesokan harinya, rombongan menuju World Expo 2010. Hanya dalam waktu 20 menit dari hotel dengan mengendarai mobil, kami sampai di lokasi pameran budaya dan teknologi yang diikuti sejumlah negara itu.

Rencananya, keluarga presiden dan para pejabat lainnya akan mengunjungi pavilion Indonesia. Pavilion kita ini, kata Pak SBY, patut dibanggakan karena menjadi salah satu pavilion favorit.

Saya kembali bersyukur karena diperbolehkan ikut pameran semegah itu. Maklum, selama ini saya hanya sering melihat pameran foto atau lukisan amatiran tentang kemiskinan di tanah air.

Rasa syukur itu terutama saya tujukan kepada para pejabat yang, secara tidak langsung, telah mengajari saya untuk menjadi narsis. Sampai saat itu, saya memaknai kata narsis secara positif, yaitu mengagumi dan menjaga diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Cerita dimulai ketika rombongan presiden mampir ke pavilion China. Dengan pengawalan ketat, rombongan yang berisi sejumlah petinggi negeri itu diarahkan ke lantai 14 atau puncak tertinggi dari sekian banyak pavilion yang dipamerkan.

Dari puncak itu, Shanghai memperlihatkan kecantikannya. Deretan gedung beringkat teratur rapi. Rastusan gedung itu tertata apik dalam setiap blok-blok kota yang terlihat simatris. Sejumlah jembatan dengan desain menawan, melangkung di atas sungai yang mengalir lancar tanpa tersendat sampah.

Pak presiden dan para pengikutnya meluangkan waktu untuk menikmati keindahan itu. Beliau terkesima dengan keindahan yang dihasilkan oleh cipta, rasa, dan karsa manusia itu.

Mungkin karena kesadaran akan berharganya manusia yang dikaruniai cipta, rasa, dan karsa itu, pak presiden dan keluarga menyempatkan diri untuk berfoto dengan latar belakang kota Shanghai. Ya, mumpung di Shanghai yang eloknya berlipat ganda bila dibandingkan dengan Jakarta.

Tanpa dikomando, semua alat kelangkapan, protokol, tim pendukung, dan pasukan pengaman langsung menyiapkan tempat ketika kalimat "sepertinya bagus foto di sini" diucapkan pak presiden.

Putra bungsu, mas Ibas, juga langsung merapat ketika puluhan kamera membidik pak presiden dan ibu Ani yang selalu berdampingan.

Meski berlangsung singkat, sesi foto itu mungkin telah menghasilkan ratusan 'frame' karena jumlah kamera yang membidik sangatlah banyak. Bahkan, beberapa kamera adalah kamera canggih yang bisa menghasilkan puluhan gambar dalam satu detik.

Saat itu saya juga baru tahu kalau gejala narsis ternyata menular. Sekali lagi, saat itu saya berpikir positif, bahwa narsis adalah wujud rasa syukur dalam bentuk penghargaan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Bukti bahwa narsis itu menular bisa dilihat dari gelagat sejumlah pejabat juga menyempatkan diri untuk berfoto di tengah agenda kerja yang padat.

Di atap pavilion China itu, beberapa dari mereka menyuruh ajudan yang selalu mendampingi untuk memotret. Setelah memantau lokasi yang cocok dan mengatur gaya semenarik mungkin, tombol bidikpun ditekan. Jadilah foto dengan latar belakang hingar bingar kota Shanghai.

Saya semakin takjub melihat kesigapan pejabat lain yang main tarik siapapun yang berada di dekatnya, dengan satu tujuan; meminta tolong untuk dipotret. Senyum mereka tersungging begitu kamera membidik.

Pajabat kita benar-benar sigap, berpikir cepat, dan berpikir global. Setelah saya bertanya kepada teman yang melek teknologi dan komputer, sifat seperti itu bisa disebut sebagai "multi tasking".

Betapa tidak, para pembesar itu berpikir cepat dan bertindak sigap begitu melihat latar belakang yang bagus untuk dijadikan obyek foto. Mereka juga berbikir global karena bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, yaitu melakukan kunjungan kerja yang padat dan mengagumi diri dalam waktu yang bersamaan.

Semakin kagum kektika aku melihat para pemegang amanat rakyat itu bisa bekerjasama dengan baik. Mereka bisa membagi tugas dengan sesama pejabat, ajudan, dan staf.

Dengan sesama pejabat, mereka bisa bergurau, tertawa terbahak dalam setiap pembicaraan tentang nasib bangsa.

Dengan para ajudan dan staf, mereka juga berbagi tugas. Pembagian tugas itu sangat tegas; para staf bertugas membawa setumpuk data dan dokumen penting, sedangkan para pajabat bertugas membawa kamera foto.

Ya, kamera foto lekat di tangan mereka untuk berjaga-jaga jika mendadak menemukan latar belakang yang bagus untuk diabadikan.

Aku sering mendengar kata narsis, terutama dalam pembicaraan dengan rekan-rekan sebaya. Biasa saja, tidak ada yang negatif dalam kosa kata itu.

Namun, bulu kudukku mendadak berdiri setelah membaca pengertian padanan kata itu dalam kamus Oxford yang sering menjadi penolongku.

Padanan paling mendekati kata narsis dalam kamus itu adalah "narcissism" yang masuk kelas kata benda.

Kamus itu memberikan definisi "narcissism" dari sisi disiplin ilmu psikoanalisa, sebagai "Kecenderungan pemusatan pada diri sendiri yang timbul akibat ketidakmampuan untuk membedakan diri sendiri dan obyek-obyek di sekitarnya, dan sebagai ciri kekacauan mental."

Aku semakin bergidik, miris, dan merasa bersalah ketika menyandingkan definisi psikoanalisa naris dengan apa yang dilakukan oleh para pembesar kita di Shanghai.

Monday, October 18, 2010

Tampil Sempurna di Tengah Bencana

Ini cerita tentang kesempurnaan.

Dua belas jam berada di dalam kabin pesawat, melayang dari Jakarta ke Manokwari, memang menguras tenaga. Tapi, untungnya, tak menguras semangat dan rasa penasaranku tentang kondisi para pengungsi banjir bandang di Manokwari, salah satu distrik di Papua Barat.

Kuayunkan kaki, melangkah, dan melihat para pengungsi berdesakan dan harus berbagi udara di dalam tenda-tenda. Tenda itu teratur rapi di sebuah lapangan yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan Lapangan Kodim. Memang, lokasinya bersebelahan dengan kantor Kodim Manokwari.

Tenda-tenda itu dikelilingi jalan melingkar. Sepertinya, jalan berbatu itu baru selesai dikerjakan karena masih terlihat basah di tengah lahan kering akibat terik mentari siang itu. Tapi, mungkin saja penglihatanku salah karena kurang tidur selama di pesawat.

Selain tenda pengungsi, ada juga tenda untuk para pejabat setempat. Jangan salah, para pembesar berada di penampungan pengungsi bukan untuk menginap. Ya, mereka di sana untuk menyambut Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak butuh lama, Pak SBY datang. Pak Presiden keluar dari mobil sedan berplat nomor "Indonesia 1", mengeryitkan kening, dan melangkah di jalan yang baru saja disiapkan itu. Setelah mengamati situasi sekitar dan melempar senyum-salam kepada mereka yang meyambut, Pak SBY langsung menuju mikrofon yang terletak di tempat teduh, di teras sebuah pendopo.

Sesuai jadwal yang sudah disusun oleh pihak protokol, dialog dengan pengungsi dimulai. Menurutku, itu lebih tepat disebut monolog karena tak ada tanya jawab di sana.

Singkat kata, dugaanku tentang jalan yang baru dibangun itu dibenarkan oleh seorang relawan yang sudah berminggu-minggu berada di lokasi itu. Dia bahkan mengatakan, para pengungsi turut membantu membersihkan sampah-sampah yang bertebaran, demi kesempurnaan kunjungan para pembesar.



Ini cerita tentang kesempurnaan.

Buritan kapal perang KRI Sultan Hasanudin tak lagi bergoyang. Aku terjaga, saat itu pukul empat dini hari waktu Wasior, Papua Barat. Tak terasa, sepuluh jam perjalanan laut sudah kulalui sejak cerita jalan basah di Lapangan Kodim Manokwari.

Segera saja aku mandi. Tinggal putar kran, air hangat mengucur di atas kepalaku. Setelah mandi tanpa harus kedinginan karena tersembur pendingin udara semalam suntuk, kulihat teman-teman yang lain sibuk mencuci baju, celana, dan yang lain-lain, di suatu ruangan. Ruang cuci itu dilengkapi mesin cuci berteknologi tinggi. Pakaian kotor yang anda masukkan ke dalamnya, akan keluar dalam keadaan kering, wangi pula.

KRI Sultan Hasanudin memang kapal perang terbaru yang yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Jika fasilitas untuk pekerja rendahan saja lebih baik dari kualitas kamar kos, bisa dibayangkan kondisi ruang khusus bagi presiden di lantai paling atas. Ah, andai saja para penjaga mengizinkan kami melongok sedikit saja.

Setelah mentari terbit, kami keluar dari kapal yang telah bersandar. Tanpa menunggu lama, kami memutuskan untuk segera menuju lokasi banjir bandang. Para pembesar? masih di kapal.

Di lokasi bencana, kami lihat beberapa truk mengangkut sejumlah orang, dan berhenti di dekat sebuah tenda. Puluhan orang yang dimampatkan di atas bak truk itu kemudian diminta turun. Beberapa dari mereka penduduk asli Papua Barat, terlihat dari ciri-ciri fisik mereka. Mereka kemudian diperiksa satu persatu oleh sejumlah tentara, sebelum diarahkan untuk duduk dalam formasi tertentu di dalam dan di sekitar tenda yang sudah disiapkan, tepatnya disiapkan menjelang kedatangan presiden.

Aku bertanya dalam hati, apakah puluhan orang yang turun dari truk itu pengungsi? Mungkinkah mereka mengungsi di lokasi bencana, sementara yang lain memilih menyeberang laut menuju Manokwari?

Kucoba bertanya kepada seorang wartawan yang bertugas lebih dulu di lokasi itu. Dia bilang, sebenarnya sudah tidak ada pengungsi di lokasi bencana. Puluhan orang itu, katanya, adalah penduduk sekitar Wasior yang tidak terkena dampak bencana. Mereka sengaja didatangkan sebelum Pak Presiden mengunjungi lokasi.

Aku yang tidak paham tentang manajemen krisis bencana memaksa memutar otak. Bisa jadi mereka didatangkan untuk membuat suatu bencana alam menjadi semakin terlihat sempurna. Dalam kondisi normal, bencana harus dihadiri oleh pejabat yang meninjau serta menjanjikan sesuatu, korban dan pengungsi yang merana, dan puing-puing yang berserakan.

Meski teman wartawan mengatakan orang-orang itu bukan pengungsi, materi dialog..eh..monolog presiden tetap menempatkan mereka sebagai korban dan pengungsi. Janji tanggap darurat, air bersih, dan sebagainya menjadi topik utama.



Ini cerita tentang kesempurnaan.

Monolog selesai. Iring-iringan mobil presiden dan tim pengikutnya kemudian menuju salah satu daerah aliran sungai. Seperti biasa, Pak Presiden memerhatikan dengan seksama bongkahan-bongkahan batu dan batang pohon yang berserakan akibat banjir bandang. Sepatu boots melindungi kaki Pak SBY dan Ibu Ani dari lumpur yang mulai mengering.

Sambil mengamati dengan seksama, presiden berjalan menyusuri sungai yang kini tak berair itu. Puluhan orang lain mengikuti di belakang. Tak seorangpun boleh mendahului, apalagi membelakangi Pak Presiden. Anggota Pasukan Pengamanan Presiden dan sejumlah staf akan segera menegur jika ada yang nekat melakukannya.

Butuh waktu beberapa saat sebelum Pak Presiden akhirnya menunjuk satu titik untuk konferensi pers. Ya, lokasi itu tepat untuk tampil di depan kamera wartawan televisi. Presiden meminta tumpukan kayu di tempat itu ditinggikan, sehingga bisa digunakan sebagai tempat sandaran mikrofon para wartawan. "Biar suara saya lebih bagus," katanya.

Instruksi itu laksana banjir bandang beberapa waktu lalu. Mengagetkan. Para staf dan pasukan pengamanan segera bergegas menerjemahkan gagasan presiden itu menjadi kenyataan, yang sempurna tentunya.

Ketika sorang staf meninggikan tumpukan kayu untuk meletakkan mikrofon para pewarta, staf yang lain sibuk mencari sudut sorot kamera yang baik. Bahkan, seorang menteri juga menyibukkan diri mengarahkan sorot kamera wartawan ke arah tumpukan pohon dan bongkahan batu, dengan hutan Wasior di belakangnya. Menurut sang menteri, kondisi yang porak poranda itu bagus untuk gambar latar belakang yang dramatis ketika Pak Presiden memberikan pernyataan.

Kesibukan luar biasa juga terjadi ketika para staf bahu membahu mencari posisi yang paling tepat untuk alat pengeras suara nirkabel. Staf berbaju safari hingga polisi berseragam dinas lapangan bersatu padu melatakkan alat tanpa kabel itu dalam posisi yang paling tepat, sesuai arahan Pak SBY; supaya suara yang keluar bagus.

Alat pengeras suara itu memang punya arti penting dalam setiap kegiatan Sang Presiden. Setiap berpidato, alat ini harus ada dan dalam kondisi siap siaga, sehingga suara Pak Presiden bisa ditangkap oleh para wartawan dengan meletakkan alat perekam di depan alat itu.

Tak terkecuali di lokasi bencana. Staf yang bertugas membawanya harus menjalankan tugas sepenuh hati. Dia harus membawa alat yang tidak bisa dibilang kecil itu kemanapun presiden melangkah.

Dia tidak boleh terlalu jauh dari presiden, sehingga jika tiba-tiba sang presiden ingin menyatakan sesuatu, suaranya bisa terdengar jernih dalam sekejap. Setelah tidak dipakai, alat itu harus dibungkus rapi serta diletakkan dalam alat penyangga khusus, dan dibawa kembali ke Jakarta.











Kembali ke kesibukan di tanah bencana. Setelah semua tertata, tahap akhirpun tiba. Seorang petinggi biro pers dan media Istana Kepresidenan dengan sigap memastikan sumua sudah siap. Dia mengabsen semua awak stasiun televisi dengan pertanyaan yang sama, "Tes..tes..suara oke? gambar oke?"

Konferensi pers siang itu mengakhiri kegiatan presiden di lokasi bencana Wasior. Setelah itu, Pak Presiden menyeberang kembali ke Manokwari untuk bermalam di Swiss-Bel Hotel.

Sekali lagi, ini cerita tentang kesempurnaan. Bencana alam yang sempurna dan kesempurnaan penampilan di depan kamera.

Saturday, September 11, 2010

Mario dan Parade Kemiskinan di Istana

Siang itu, ratusan rakyat jelata "menumpuk" di trotoar sepanjang Jalan Majapahit. Tepat di depan gerbang besi gedung Sekretariat Negara, mereka antri untuk dipanggil masuk ke dalam komplek Istana Kepresidenan, dan berlebaran dengan keluarga Presiden.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono, siang itu, menggelar "open house" di Istana Negara. Mereka memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin bersilaturahim pada Lebaran hari pertama atau Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriah.

Jauh hari sebelumnya, Sekretariat Negara telah mengumumkan "open house" di Istana Negara berlangsung pukul 15.00-17.30 WIB.

Untuk itu, masyarakat dipersilakan menuju Istana Negara melalui pintu Sekretariat Negara di Jl Majapahit No.7 yang mulai dibuka pada pukul 14.00 WIB dan akan ditutup pada pukul 16.30 WIB.

Kegiatan "open house" atau silaturahim bagi masyarakat itu adalah salah satu dari sejumlah rangkaian acara Pak Presiden dan keluarga dalam merayakan Lebaran.

Sebelum menerima masyarakat umum, Presiden lebih dahulu menerima Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati, para menteri, dan pejabat negara lainnya

Pada hari kedua Idul Fitri, Presiden Yudhoyono dan keluarga dijadwalkan akan berhalal bihalal dengan Ibunda Presiden Yudhoyono, Ny Siti Habibah, serta para keluarga sepuh Presiden. Dengan demikian, rakyat harus mengurungkan niat mereka untuk berlebaran di kediaman pribadi Presiden di Cikeas, Bogor, seperti biasa dilakukan beberapa tahun sebelumnya.



Parade kemiskinan

Tidak gampang untuk masuk Istana. Rakyat harus mengenakan pakaian rapi, serta tidak diperkenankan membawa tas, kamera, dan telepon genggam.

Maka tak heran jika sebagian orang terlihat memaksakan diri dan memutar otak guna tampil rapi seperti yang diminta pihak Istana.

Setelah tampil rapi, mereka harus mendaftarkan diri untuk kemudian dikelompokkan oleh panitia sebagai orang yang layak memegang kartu dengan warna tertentu. Tak seorangpun dari mereka tahu maksud pengelompokan itu.

Mereka yang termasuk "jenis" manusia yang layak masuk Istana akan dipanggil dan harus melalui dua tempat transit yang terhubung dengan koridor beratapkan tenda sebagai peneduh, sebelum bisa menatap Presiden secara langsung.

Pada Lebaran kali ini, Pak SBY memberi kesempatan warga untuk berlebaran di Istana, menatap presiden secara langsung, serta sekedar menjabat tangan orang nomor satu di Indonesia itu selama sekian detik dan kemudian pergi.

Setelah keluar dari dalam Istana, sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu di sekitar taman komplek Sekretariat Negara. Beberapa bergerombol, beberapa menyendiri.

Taman komplek Sekretariat Negara seketika menjelma menjadi ruang publik, tanpa sekat sosial. Seketika itu pula larangan menginjak rumput taman dilanggar.

Tidak hanya aturan yang seragam dalam silaturahmi di Istana, namun juga niat para pengunjung. Sejauh kaki melangkah di taman, kasak-kusuk atau bahkan teriakan kekecewaan terdengar dengan mudah.

"Kagak ada apa-apanya, gak ada duitnya," teriak seorang dari mereka.

Bahkan seorang pria yang terlihat segar bugar, bukan tuna netra, secara jelas meluapkan rasa kecewa dan iri karena hanya para tuna netra yang mendapat "uang saku" dari Istana.

"Masa cuma yang cacat yang dikasih," kata pria yang menolak ketika ditanya siapa namanya.

Beberapa tuna netra mengaku menerima uang Rp100 ribu per orang dari Istana.

Beberapa orang dengan jelas memperlihatkan kekecewaan. Bahkan seorang ibu yang nampak sehat, segar bugar, mengiba kepada petugas keamanan untuk bisa masuk ke istana meski waktu yang disediakan sudah habis.

Ibu yang mengenakan busana kantor berwarna biru muda itu merengek dan memaksa petugas keamanan untuk mengantarkannya masuk ke dalam Istana.

Namun, lagi-lagi, ketika ditanya identitas dan motvasi masuk ke Istana, ibu itu diam dan menolak manjawab.

Ketidaksabaran rakyat dalam menuai belas kasih Istana itu sebenarnya nampak sejak awal. Ratusan orang berdesakan, memaksa petugas membuka gerbang meski saatnya belum tiba.

Mereka yang sehat tidak mau kalah, mendorong, menyikut, berteriak. Mereka yang tuna netra terdorong dan terinjak.

Satu nyawa melayang dalam kejadian itu. Joni Malela (45), seorang tuna netra, menghembuskan nafas terakhir setelah terdesak ratusan orang di sekitarnya.






Harga diri

Mario adalah salah satu dari ratusan orang itu. Meski sama-sama masuk ke Istana, namun pemuda itu memiliki motivasi berbeda.

Senyum Mario merekah ketika menginjakkan kaki di komplek Istana Kepresidenan. Pemuda itu bersemangat untuk merayakan Lebaran di Istana bersama Presiden Yudhoyono. Semangat itu pula yang mendorongnya bangun pagi, kemudian melangkahkan kaki demi menjabat tangan pemimpin negeri.

Mario tampak laiknya pemuda biasa. Dan memang seperti itu adanya, sederhana.

Namun, di balik kesederhanaan itu, jelas terlihat pemuda 25 tahun itu berusaha memperindah diri untuk bertemu Presiden. Sepasang sepatu putih yang agak kecoklatan, karena termakan usia, membungkus kedua telapak kakinya.

Celana panjang berwarna biru ia kenakan untuk disandingkan dengan kaos putih. Untuk ukuran badan yang tidak terlalu gempal, kaos itu memang terlalu besar.

Namun, sepertinya, Mario tidak ambil pusing. Dia tetap riang, sigap bergerak, meski kadang kaosnya berkibar bak layar perahu yang tertiup angin.

Kalung yang menyerupai rantai terbuat dari logam melingkar di lehernya. Kilau logam itu semakin nyata karena menempel di kulit yang legam.

Sepintas, Mario hanyalah pemuda biasa. Dia hanya remaja yang beruntung memiliki fisik sehat. Namun, harga diri dan semangat yang berapi-api membuatnya menjadi luar biasa.

Dia langsung bergegas pulang, tanpa meluangkan waktu bersungut-sungut karena tidak mendapatkan "uang saku".

"Saya sudah dapat kue," kata Mario bersyukur.

Dia justru sepakat jika santunan hanya diberikan hanya kepada mereka yang membutuhkan, terutama para tuna netra.

Meski tidak ada yang bisa menjamin ketulusan hati para tuna netra tersebut, Mario beranggapan ketidaksempurnaan fisik membuat para tuna netra pantas mendapatkan santunan.

"Karena itu, mereka memang pantas dibantu," katanya pemuda asal Papua yang baru setahun tinggal di Jakarta itu.

Dia mengaku tidak memiliki niat lain selain berjabat tangan dengan presiden. Begitu senangnya dia berhasil menjabat tangan presiden, Mariopun selalu mengumbar senyum dalam perjalanan pulang.

Gerakannya sigap, jalannya cepat. Kedua kakinya terlihat nyaman dalam balutan sepatu yang tak lagi baru itu.

Di tengah perjalanan, Mario berbelok arah menuju halte bus Transjakarta yang akan membawanya ke kawasan Cempaka Putih dengan lebih cepat.

"Saya harus kembali bekerja," katanya bersemangat, tersenyum, melambaikan tangan, dan kembali bergegas.

Dia memilih bekerja ketika ratusan orang lain bersungut-sugut menunggu pintu Istana terbuka kembali, berharap belas kasih, memelas.


Salam memelas
F.X. Lilik Dwi Mardjianto

Tuesday, August 31, 2010

Jangan Potret Presiden Saat Makan

Sore itu, Selasa, 31 Agustus 2010, Pak SBY hadir dalam acara buka puasa bersama anak yatim piatu dan dhuafa di Jakarta Convention Center.
Semua berjalan seperti biasa...pengawalan super ketat; sebelum presiden datang, pembawa acara sudah memberitahu hadirin apa yang harus dilakukan ketika rombongan prsiden datang; kemudian pak Presiden datang segar bugar sambil melambaikan tangan tentunya.

Meski nampak seperti biasa, sebenarnya ada yang luar biasa, yaitu: Pak Presiden makan dihadapan ribuan orang dan sejumlah kamera. Menyaksikan pak SBY makan memang hal yang langka. Saya, rakyat jelata ini, juga baru tahu setelah belakangan keluyuran ke Istana.

Di Istana, ataupun di manapun, para wartawan dilarang mengabadikan gambar Pak Presiden yang sedang makan...entah dengan alasan apa. Memang ada gambar presiden sedang berada di depan meja makan dengan sejumlah hidangan tersaji. Namun, hampir tidak pernah ada gambar atau rekaman video presiden sedang melahap makanan.

Hal yang sama terjadi di JCC. Saat itu, Pak Yudhoyono duduk di panggung kehormatan bersama Ibu Ani dan sejumalah menteri. Panggung kehormatan itu menghadap ke 3.400 anak yatim piatu dan dhuafa yang duduk "lesehan".

Sejuk rasanya melihat menu buka puasa pak presiden sama dengan menu para anak yatim piatu. Meski menu itu tidak bisa dibilang sederhana dan bersahaja, pasti kejadian itu baik untuk citra presiden, apalagi sang pembawa acara mengumumkan hal itu melalui pengeras suara yang, tentunya, disambut riuh tepuk tangan para hadirin.

Sayangnya, kami tidak bisa mengabadikan pemandangan yang indah dan bersahaja itu. Tanpa diduga, salah satu anggota Pasukan Pengamanan Presiden berdiri sigap dan menunjuk ke seseorang yang berniat memotret Pak Presiden yang sedang berbuka. Setelah menunjuk, dia menyilangkan pergelangan tangan, menggelengkan kepala. Semua tahu itu adalah larangan memotret.

Benar saja, tak lama kemudian, anggota Paspampres yang lain menghampiri para juru kamera dan mengingatkan agar tidak merekam ataupun memotret presiden ketika sedang makan. Setelah kejadian itu, puluhan pasang mata Paspampres sigap bergerak memantau arah dan kerja setiap kamera.

Aku sendiri pingin banget memotret pak presiden sedang makan. Namun kuurungkan niat itu...khawatir kalau ditegur tentara dan bikin gaduh suasana.

Setelah tanya kesana- kemari, larangan memotret Presiden yang sedang makan itu bukan cuma berlaku pada masa pemerintahan Pak SBY. Kabarnya, aturan itu juga berlaku sejak presiden-presiden sebelumnya.

Aku teringat cerita tentang pengalaman menggelikan ketika sepupuku malu di depan umum pada saat dan setelah dia makan.

Mie ayam adalah makanan yang dia santap saat itu. Mie ayam adalah hidangan lezat bagi kami, bocah kampung, kala itu. Bahkan, untuk semangkuk mie ayam, kami rela naik bis ke kota.

Saking enaknya, sepupuku itu tidak peduli dengan mimik mukanya yang terlipat kesana kemari gara-gara berusaha mengurai serat daging ayam yang keras minta ampun itu. Akupun tertawa membayangkan muka sepupuku yang mendadak berubah bak juru pantomim.

Gelak tawaku kembali membuncah ketika mendengar cerita bahwa dia dengan percaya diri bertumpuk-tumpuk bercerita dan tertawa di dalam bus kota, meski daun bawang menyelip di sela gigi serinya. Aku sendiri malu membayangkannya.

Kembali ke Pak Presiden. Kabarnya, selain dilarang memotret presiden yang sedang makan, juru warta Istana juga tidak boleh memotret atau merekam gambar presiden yang sedang mengenakan sepatu. Entah kenapa...

Jadi, daripada berpanjang lebar, tak usahlah kita berharap bisa melihat presiden-presiden kita melahap makanan dan tanpa beralas kaki dengan bersahaja....sebersahaja presiden Bolivia Evo Morales yang sedang berbuka puasa bersama Presiden Iran Ahmadinejad,....atau sesederhana presiden Ahmadinejad yang sedang tidur...seperti dalam gambar berikut.






























Salam bersahaja.
F.X. Lilik Dwi Mardjianto




Sumber gambar:

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://salim.usk.googlepages.com/iran-president-7.jpg&imgrefurl=http://salimkita.blogspot.com/2009/02/ahmadinejad-ingatlah-anda-tidak-lebih.html&usg=__pBeGDGIqcMASD7dabaXpj-fUC5g=&h=672&w=450&sz=39&hl=jw&start=21&sig2=brPyO1tQGh4cggaAohV-yg&zoom=1&itbs=1&tbnid=HBqr2RKGCgmuTM:&tbnh=138&tbnw=92&prev=/images%3Fq%3Dpresiden%2Bmakan%26start%3D20%26hl%3Djw%26sa%3DN%26gbv%3D2%26ndsp%3D20%26tbs%3Disch:1&ei=2QF9TKq_KYfJcYyUgPUF

dan

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://ressay.files.wordpress.com/2008/09/nejad_morales.jpg&imgrefurl=http://ressay.wordpress.com/2008/09/&usg=__IlLdnSiZOSgsQoUGXjfHXRgCDrA=&h=418&w=600&sz=147&hl=jw&start=189&sig2=JErDSw2OUdwVbkzWaULF7g&zoom=1&itbs=1&tbnid=OtChfxwYdqnwHM:&tbnh=94&tbnw=135&prev=/images%3Fq%3Dahmadinejad%2Bmakan%26start%3D180%26hl%3Djw%26sa%3DN%26gbv%3D2%26ndsp%3D20%26tbs%3Disch:1&ei=FyZ9TI2PG8jIcdHHye0F

Monday, August 23, 2010

Asketisme Politik dan "Chicken Flambe"

Ini hanya tulisan ringan. Saya berjanji. Kalaupun terkesan berat, itu hanya ketidakmampuan saya untuk memilih judul yang lebih menarik.

Ini hanyalah lanjutan dari kisah Wortel Partisan yang saya ceritakan sebelumnya.
Singkat kata, rakyat jelata berkesempatan mengikuti acara buka puasa bersama di kediaman pak presiden kita, Pak SBY, di Puri Cikeas, Bogor, 22 Agustus 2010 silam. Pintu terbuka, masukklah saya dan beberapa teman, yang juga jelata.

Memasuki halaman rumah Pak Presiden, saya melihat hamparan karpet, menyelimuti pekarangan rumah. Karpet terus membentang hingga ke sebuah pendopo yang mungkin cukup untuk menampung 50 orang. Pendopo itu masih termasuk bagian pekarangan rumah.
Jika itu saja baru pekarangan, bisa dibayangkan luas rumah pak presiden seluruhnya.

Buka puasa itu diawali dengan sambutan Pak Anas Urbaningrum, Ketua Umum DPP Partai Demokrat, yang juga partainya Pak SBY.

Ada yang baru dari Pak Anas, bukan baju kokonya, bukan juga kacamatanya...tetapi istilah yang diserukan dalam pidato, asketisme politik!

Terinsipiasi oleh para tokoh yang selalu mendewakan pencitraan, sayapun segera sikut kanan sikut kiri sambil memencet semua tombol yang ada pada perangkat elektronik pinjaman kantor, hanya dengan satu tujuan...mencari tahu makna "asketisme" supaya citra saya baik, tidak terlihat bodoh-bodoh amat.

Dari sejumlah literatur yang saya baca, makna "asketisme" bermuara pada keadaan ketika seseorang lebih mengutamakan pengendalian diri dan nilai-nilai rohani keagamaan
daripada dorongan ragawi alamiah. Jadi "asketisme politik" kira-kira adalah tindakan mengedepankan pengendalian diri dan nilai rohani keagamaan dalam kehidupan berpolitik.

Rupanya tak terlalu meleset perkiraaan saya karena, dalam pidatonya, Pak Anas juga meminta para kader Partai Demokrat untuk bersabar, sopan, tidak grusa-grusu, apalagi di masa puasa.
Semua manggut-manggut, menyimak, seakan memahami. Dalam hati saya berujar, para kader Partai Demokrat akan segera dan semakin mengukuhkan diri sebagai politisi yang sopan, teratur, terukur dan tentu saja...terstigma teraniaya.

Saya kaget karena lamunan saya itu mendadak buyar! mendadak semua orang berdiri, memakai alas kaki dan mengerumuni sumber makanan yang sudah disediakan. Rupanya, karena terlalu asyik melamun, saya tak sadar kalau waktu berbuka sudah tiba.

Pemandangan yang saya lihat saat itu, menurut pendapat pribadi, sangat jauh dari kesan teduh-tenang-sabar yang digambarkan dalam jargon "asketisme" Pak Anas.

Riuh..rapat...ramai. Sedikit saja menoleh, saya memandang kerumunan orang. Sedikit saja bergeser, saya akan menyenggol orang lain yang seakan berlomba menyantap makanan yang disediakan.

Saya menjadi penasaran, apa sih yang akan mereka makan sehingga keriuhan itu harus mengganggu lamunanku tentang "asketisme" yang teduh-tenang-sabar-rohani itu.
Dengan sedikit meliukkan badan supaya tidak menyonggol orang-orang yang sedang menyangga piring penuh makanan, saya berhasil melongok menu yang disajikan.

Sebagian besar asing bagiku yang jelata ini. Beberapa hidangan yang kuingat adalah "Chicken Flambe" dan "Thai Steam Boat". Apakah itu? Otak ini tak mampu menerjemahkannya.

Aku sedikit menahan cemas, jangan-jangan semua yang disajikan bercitarasa "asing". Bukan kenapa, aku hanya khawatir tidak bisa makan karena lidahku mungkin saja berontak jika menyentuh makanan berkelas seperti itu.

Dari ujung hingga ke ujung lainnya, aku tak menemukan makanan yang sering kujumpai di kampung halamanku, seperti growol, wajik, jadah, cethot, klepon. Ataupun aneka sayuran yang sering dibuat oleh almarhum ibuku, seperti trancam, pecel, rawon, atau sayur nangka.

Tapi untunglah, setelah sekian lama mencari, aku menemukan Mie Kangkung. Halo kangkung, aku memilihmu.

Meski bingung dan cemas karena "ndeso", aku masih bisa bersyukur karena aneka cita rasa asing itu telah memperkaya pengetahuan dan pengalaman.

Aku juga semakin memahami kenapa banyak orang meyebut presiden kita memiliki wawasan dan orientasi internasional, hingga pidato-pidatonya disandingkan dengan pidato presiden Amerika Serikat dalam buku "Word That Shook The World" karangan Richard Greene yang bersampul tebal dan dijual dengan harga Rp280 ribu per eksemplar itu.

Oleh karena itu, mungkin saya harus bangga. Atau harus menabung supaya bisa membeli buku tentang Pak Presiden?

Kembali ke soal makanan. Rasa penasaranku tentang "Chicken Flambe" belum lenyap. Hasil sikut sana sikut sini membuatku sedikit mengenal jenis makanan ini.

Cambridge Advanced Learner's Dictionary atau kamus yang sering menjadi tempatku mengadu menjelaskan "flambe" termasuk dalam dua kelas kata, kata kerja dan kata sifat.

Sebagai kata kerja, "flambe" berarti menuangkan alkohol di atas makanan selama proses memasak. Sedangkan sebagai kata sifat, "flambe" selalu ditempatkan setelah kata benda untuk menegaskan bahwa kata benda itu dibuat dengan proses penuangan alkohol. Jantungku mulai berdetak....

Pencarianku belum selesai. Kucoba mencari pendapat lain tentang cara pembuatan "Chicken Flambe". Jantungku semakin berdetak lebih cepat setelah tahu kalau "brandy" menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk membuat makanan itu. Kalau saya tidak salah, "brandy" berasal dari kata "brandywine", semacam minuman hasil fermentasi anggur dengan kadar alkohol antara 35 persen sampai 60 persen.

Sembari pulang, aku berpikir dan kembali melamun apa pesan yang hendak disampaikan ketika "Chicken Flambe" yang mungkin mengandung alkohol disajikan dalam hidangan buka puasa? kenapa setelah mendengarkan pidato tentang asketisme yang teduh-tenang-sabar-rohani, orang-orang lahap sekali menyantap si "flambe" itu?

Ah..mungkin itu hanya lamunan tidak penting. Semoga saja apa yang saya baca tentang "Chicken Flambe" beralkohol itu tidak benar. Semoga.


Salam semoga.
F.X. Lilik Dwi Mardjianto

Sunday, August 22, 2010

Wortel Partisan

Puri Cikeas, siapa yang tak mengenalnya? Penduduk kawasan itu mendadak mengalami penyempitan ruang gerak akibat pemadatan penghuni akhir-akhir ini.

Pemadatan itu tentu terjadi karena adanya daya tarik. Dan tak bisa dipungkiri Pak SBY, presiden kita, adalah salah satu daya tarik itu. Pak Presiden sudah beberapa lama tinggal di kawasan itu.

Sore itu, 22 Agustus 2010, Puri Cikeas ramai sekali. Mobil-mobil mengkilat berderet menyemut menuju kediaman pak Presiden.

Dari bawah gardu ronda di salah satu tikungan, saya bisa melihat sejumlah tokoh turun dari mobil-mobil tadi.

Oo...pantas mobilnya bagus-bagus, karena yang punya ternyata tokoh-tokoh penting, para kader dan pengurus Partai Demokrat. Sore itu, mereka akan berbuka puasa bersama Pak Presiden yang juga panutan mereka...Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Sungguh bersyukur karena rakyat jelata sepertiku bisa bergabung dalam acara tersebut. Murah hari nian sang empunya rumah.

Seperti biasa, acara yang dihadiri oleh Pak Yudhoyono berlangsung tertib, serba diatur. Setiap pasang mata kader Partai Demokrat tertuju kepada Pak SBY yang berpidato di mimbar. Setiap pasang telinga mengarah pada untaian kalimat rapi jali yang diucapkan oleh pak Presiden.

Soliditas partai nampak dan terasa dari setiap riuh tepuk tangan yang tertata dan terukur. Tentu saja, tepuk tangan meriah, lengkap dengan senyum sumringah para kader.

Loyalitas para kader Partai Demokrat tak perlu dipertanyakan. Sia-sia rasanya meragukan loyalitas awak partai yang sukses meraup dan mendulang suara dalam pemilihan anggota DPR dan presiden itu.

Berbicara tentang loyalitas, saya terhenyak! Bukan karena loyalitas kader telah memenangkan Partai Demokrat, tapi karena potongan wortel.

Kenapa wortel? ya, wortel adalah salah satu sajian untuk acara buka puasa di kediaman Pak Yudhoyono petang itu.

Awalnya biasa saja. Namun, lama kelamaan saya semakin tertarik dengan jenis sayuran yang, katanya, baik untuk kesehatan mata itu. Saat itu, saya tertarik bukan karena khasiatnya, namun karena bentuk...bentuk yang menurut saya terkait dengan loyalitas tadi.

Wortel itu disajikan secara "menyimpang" dari pakem yang biasa dianut kebanyakan orang. Daripada menggunakan kata "menyimpang", telinga sebagian orang mungkin lebih nyaman mendengar bila saya gunakan kata "inovasi". Ya..wortel itu disajikan dengan inovasi tinggi.

Bukannya disajikan dengan memotong wortel melintang sehingga menghasilkan potongan berbentuk lingkaran, tiap irisan wortel Cikeas itu dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai lambang Partai Demokrat, kalau saya tidak salah melihat.

Awalnya, saya menyangka ibu atau bapak yang bertugas menyajikan wortel itu terinspirasi dengan salah satu logo merk produk otomotif kenamaan.

Namun, setelah celingukan, saya tidak menemukan logo perusahaan otomotif itu terpampang sebagai sponsor acara buka puasa tersebut.

Tidak seperti saat upacara kenegaraan di halaman Istana Merdeka, ketika logo perusahaan produsen bahan bangunan dan induk sejumlah usaha, termasuk asuransi, terpampang dalam cenderamata yang dibawa pulang oleh para tamu undangan.

Saat itu saya hakul yakin tidak ada logo perusahaan otomotif terpampang sebagai sponsor kegiatan di kediaman Pak Presiden. Atau saya saja yang kurang cermat mengamati...?

Karena tidak menemukan logo tersebut, benak saya seraya melayang dan mencitrakan logo lain yang sedikit mirip, yaitu logo Partai Demokrat.

Jika prasangka saya benar, wah...hebat sekali ibu atau bapak penyaji menu sore itu. Loyalitas bisa mendorong mereka untuk berinisiatif, sehingga segala pernik acara sore itu terkesan "matching". Acara Partai Demokrat, aksesoris juga harus bernuansa demokrat, termasuk wortel.

Atau bisa jadi saya salah. Tidak pernah ada inisiatif dari bapak ibu yang bekerja di dapur. Bisa jadi para penyaji itu hanya menjalankan tugas, menjalankan arahan, seperti biasanya. Memang, semuanya telah disiapkan dan diatur.

Salam teratur.
F.X. Lilik Dwi Mardjianto